Selasa, 20 Februari 2024

Bismillah, 2024 ini Mulai Ngeblog lagi


 Rabu, 21/2/2024

Entah kenapa tiba-tiba searching lagi tentang site blog yang pernah dibuat 2017 yang lalu, kemudian mulai searching bloger-blogger hebat indonesia yang sesnior sekali tetapi sampai hari ini masih konsisten ngeblog. 


Kemudian saya pun timbul keinginan untuk ngeblog lagi untuk menulis cerita sehari-hari saja, rasa-rasanya ngeblog itu membuat pikiran kita fresh dan plong untuk menumpahkan keluh kesah suka duka kehidupan. 


Singkat cerita, blog ini memang saya buat untuk menulis masa kehidupan pribadi, yang berawal dari masalah kuliah yang berkecamuk 2017 silam, hingga tuntas 7 tahun S1 saya. haha


Menulis memang bukan keahlian saya, tapi saya percaya diri saja untuk menulis hal-hal kecil yang ada di pikiran saat ini. 


Tanpa kita sadari atau tidak, dalam keseharian kita terkadang banyak hal yang melintas di pikiran kita, banyak hal yang kita ungkapkan mengalir apa adanya, lalu kenapa kita tidak menuangkan saja apa yang terlintas di pikiran dalam bentuk tulis kita salurkan mengalir apa adanya, dengan kemampuan menulis seadanya namun tetap harus terus belajar.


Memang, saat awal-awal kita menulis, kita bingung mau nulis mulai dari mana, tapi ya dimulai terus aja, ga akan ada sebuah perjalanan kalau kita tidak menggerakkan kaki pertama. so, berjalanlah, melangkahlah pelan-pelan saja dulu. 

Sekian dulu, narasi awal tahun 2024 ini

Jumat, 15 Desember 2017

Cinta Menurut Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyah


Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyah membagi cinta kepada wanita dalam tiga bentuk :
1]. Mencintai wanita dengan maksud ketaatan dan Taqarrub kepada Allah.Ini merupakan cinta kepada istri dan budak wanita yang dimiliki. Merupakan cinta yang bermanfaat dan dapat mengantarkan kepada tujuan yang disyariatkan Allah dan pernikahan, dapat menahan pandangan mata dan hati untuk melirik wanita selain istrinya. Orang yang mencintai semacam ini dipuji di sisi Allah dan di tengah manusia.
2]. Cinta yang dibenci Allah dan menjauhkan dari Rahmat-Nya. Cinta yang hanya
memperturutkan hawa nafsu. Demi cinta ini, seorang hamba mau melanggar Syariat Allah. Cinta ini merupakan yang paling berbahaya bagi hamba, yang dapat mengancam agama dan dunianya. Sapa yang memiliki cinta ini, dia hina di hadapan Allah, dia orang yang hatinya paling jauh dari Allah, dan cinta ini merupakan tabir penghalang antara dirinya dengan Allah. Untuk mengobatinya adalah dengan memohon pertolongan kepada Allah yang membolak-balikkan hati, bersungguh-sungguh untuk kembali kepada-Nya. Sibuk mengingat-Nya, menyibukkan diri dan mengganti cinta itu dengan cinta hanya pada-Nya. Memikirkan derita dan sengsara yang akan dialami lantaran cinta itu, dan menggambarkan keindahan sebenarnya dengan melupakan cinta itu.
3]. Cinta yang mubah. Cinta yang tiba-tiba datang, seperti mencintai wanita cantik yang sifatnya dikatakan kepadanya, atau dilihat dengan tak sengaja, lalu hati pun tertambat padanya. Tapi cinta ini tak sampai menjerumuskan dirinya hingga melakukan maksiat dan kedurhakaan (seperti berhubungan atau berpacaran dengan wanita itu). Yang ini tak menimbulkan siksaan. Yang paling bermanfaat adalah membuang jauh-jauh cinta ini dan menyibukkan diri dengan hal yang lebih bermanfaat. Dan juga harus menyembunyikan perasaannya, menjaga kehormatan dirinya, dan sabar dalam menghadapi ujian cinta ini. Sehingga dengannya Allah memberinya pahala. Yang mesti dilakukan adalah mengganti cintanya itu dengan kesabaran karena Allah, tidak patuh pada bisikan nafsu dan lebih mementingkan keridhaan Allah dan apa yang ada di sisi- Nya. Dari tiga bentuk cinta di atas, dapat dipahami bahwa seandainya bara cinta itu –yang lahir karena keindahan wajah seorang wanita mampu dipendam (bahkan diredam), dan tidak melanjutkannya pada tahapan yang melanggar syariat (seperti pacaran), kemudian bersabar dan memohon ketabahan kepada Allah, dan lebih memilih keridhaan Allah walau harus bertarung dengan perasaan sendiri, maka ini yang dibolehkan. Dan satu hal yangtak boleh terlupakan bagi seorang muslim, bahwa Allah tak mungkin menyianyiakan hamba-Nya yang lebih memilih cinta dan kasih sayang-Nya, meski harus merelakan sang kekasih menjadi milik orang lain. Mungkin dengan ujian cinta dan sikap kita yang seperti itu (lebih memilih keridhaan Allah), Allah ingin kita menjadi hamba pilihan yang kelak akan merasakan indahnya bersanding dengan bidadari nan menawan di jannah-Nya. Andaikan memilih bentuk cinta kedua, maka ini yang disebutkan Imam Ibnul Qayyim, bahwa permulaannya suatu yang ringan dan manis. Pertengahannya kekhawatiran, kesibukan hati dan siksaan. Dan kesudahannya adalah kebinasaan dan kematian. Adapun bentuk cinta yang ketiga, maka obatnya hanya dua. Pertama berpuasa dan menyibukkan diri pada hal yang mampu menjauhkan pikiran ke arah “sana”, dan jika puasa sudah tak bisa untuk meredam gejolak cinta itu, maka tak ada jalan lain lagi selain yang kedua yakni menikah. “Menikah dengan wanita yang dicintai merupakan obat cinta yang paling mujarab, yang dijadikan Allah sebagai penawar yang sejalan dengan ketetapan syariat,” demikian Ibnul Qayyim meyakinkan. Cinta Tertinggi Hanya untuk Allah dan Rasul-Nya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda, “Ada tiga perkara apabila terdapat pada diri seseorang, maka dia akan merasakan manisnya iman. Ia menjadikan Allah dan Rasul- Nya lebih dicintainya daripada selain keduanya, ia mencintai seseorang hanya karena Allah,ia sangat benci kembali pada kekufuran sebagaimana ia benci dicampakkan ke dalam api.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Karena itu, jika kita mencintai seseorang, usahakan jangan sampai melebihi cinta kita
pada Allah dan Rasul-Nya, agar cinta kita tidak menggelincirkan diri kita dalam dosa.


Sabtu, 26 Agustus 2017

Skripsi , Semakin Di Tinggal Semakin Menjauh

 Skripsi , Semakin Di Tinggal Semakin Menjauh


Pernah jadi mahasiswa? Pernah bergelut dengan namanya skripsi tak kunjung selesai?
Kalau pernah, yups berarti anda seorang mahasiswa. Selamat.
Terkadang kita bertanya pada hembusan angin dan burung yang berkicau, entah kapan di Indonesia ini skripsi tidak lagi dibebankan kepada mahasiswa yang ingin wisuda.

Ya, skripsi sangat membebani mahasiswa. Banyak mahasiswa yang terpaksa angkat kaki dari kampusnya karena persoalan yang satu ini. Namun, perkaran tersebut tidak semuanya terjadi pada mahasiswa, karena kasus skripsi tak kunjung selesai itu hanya pada mahasiswa yang judul skripsinya ingin mengubah dunia, pembimbing yang lumayan mudah mencoret skripsinya, dan mahasiswa yang rasio malasnya tingkat dewa. Tapi ada juga, mahasiswa yang rajin, pintar, IPK selalu tinggi, aktif di kampus, dikenal oleh adik-adik leting khususnya cewek seantero kampus- tapi skripsinya gagal. Penyebabnya adalah frustasi. Sekali coret langsung tepar, pasrah tak berdaya. Yassalam !

Berkawanlah dengan skripsimu ! dekati ia, berteman dengannya, kalau perlu tidur dengannya. Bismillah selesai.
Ya. Jadikan ia sebagai sahabatmu. Kalau dosen pembimbingmu lumayan friendly person cukup satu bulan kamu berteman dnegan skripsimu itu—insyaalllah selesai dalam jangka sebulan. Dengan syarat—kamu harus rutin setiap hari membawanya selalu kemnapun kamu pergi.
Karena selesainya skripsi sangat bergantungan pada seberapa besar perhatianmu terhadapnya. Kalau perhatianmu tidak full maka besar kemungkinan lama selesainya. Saat dosen pembimbingmu mengoreksi dan memintamu untuk revisi, maka segera revisi—jangan tunda minggu depan—kalau bisa hari ini di koreksi—esoknya  sudah kamu serahkan lagi revisinya.
Jangan biarkan ia tertinggal satu haripun, satu hari kamu tinggalkan bisa jadi seminggu tidak tersentuh, satu minggu kamu tinggal bisa jadi sebulan bahkan setahun tak tersentuh.
Fokus. Itulah kata yang pas untuk menggambarkan bahwa kamu harus serius mengerjakan tugasmu sebagai mahasiwa akhir. Ada banyak orang gagal skripsi karena tidak fokus—terlalu besar memberi perhatian ke pekerjaan lain dari pada skripsi itu sendiri. Kalau kamu lebih menyibukkan diri dengan tugas lain—ya kapan selesainya?

Jangan biarkan ia tertinggal. Satu haripun usahakan jangan. Bahaya loh kalau sempat skripsimu ngambek ditinggalin. Bisa jadi mood kamu bisa hilang untuk ngerjainnya lagi.
Yakin, bahwa kamu akan wisuda dan siap membawa orang tua dan sanak keluargamu di hari H  
Keyakinan seseorang menentukan kesuksesannya. Pastikan bahwa pada hari ditetapkan wisuda kamu salah satu pesertanya—dan orang tuamu akan menjadi saksi dan ikut serta oleh sanak keluarga kamu bahagia hari tersebut.
Sekian !

Patut Ditiru. Setelah Menikah, Pasangan Muda Asal Aceh ini Dapat Beasiswa ke Australia

Patut Ditiru. Setelah Menikah, Pasangan Muda Asal Aceh ini Dapat Beasiswa ke Australia



Sepertinya hikmah dari menikah muda tidak dapat diragukan lagi. Selain tercegah dari perbuatan zina, nikah muda juga membawa keuntungan tersendiri bagi mereka yang melaksanakan ibadah mulia ini, khususnya dalam hal rezeki. Katanya nikah muda dapat membawa berkah dalam urusan rezeki. Memang urusan rezeki sepenuh urusan Allah, namun kita sebagai makhluknya harus tetap berusaha menemukan jalannya.
Sebagai anak muda, anjuran menikah muda memang bukan sekedar menjauhkan diri dari dosa saja , tapi lebih dari itu. Masa muda adalah segalanya, dengan usia yang masih energik sangat mudah melakukan apapun yang di inginkan. Kesehatan masih terjaga, stamina masih kuat, jiwa dan semangatnya pun masih terjaga.
Sepertinya hikmah dari menikah muda tidak dapat diragukan lagi. Selain tercegah dari perbuatan zina, nikah muda juga membawa keuntungan tersendiri bagi mereka yang melaksanakan ibadah mulia ini, khususnya dalam hal rezeki. Katanya nikah muda dapat membawa berkah dalam urusan rezeki. Memang urusan rezeki sepenuh urusan Allah, namun kita sebagai makhluknya harus tetap berusaha menemukan jalannya.
Sebagai anak muda, anjuran menikah muda memang bukan sekedar menjauhkan diri dari dosa saja , tapi lebih dari itu. Masa muda adalah segalanya, dengan usia yang masih energik sangat mudah melakukan apapun yang di inginkan. Kesehatan masih terjaga, stamina masih kuat, jiwa dan semangatnya pun masih terjaga.
Keduanya merupakan alumni bahasa inggris Universitas Islam Ar Raniry Banda Aceh yang dikenal mahir dan aktif dalam berbahasa inggris. Istrinya, Rayhan juga pernah tercatat sebagai mahasiswa teladan kampus. Tapi bukan itu alasan alumni SMA Modal Bangsa meraih beasiswa, semua itu karena kegigihannya dalam berusaha. Sang suami, Tatha tidak kalah paten dengan sang istri, pemuda kelahiran Tapak Tuan Aceh Selatan ini dikenal luas seantero kampus terutama di fakultasnya, terkenal bukan karena ganteng pastinya (karena orangnya memang sudah ganteng. #haha), melainkan karena keaktifannya.
“Tetap menjadi "down - to - earth" person,karena orang yang pintar banyak, so just be yourself. Di atas langit masih ada langit” adalah kata-kata yang menginspirasi Tatha dalam mengejar kesuksesan. Baginya orang pintar itu banyak, tapi orang yang mau melakukan, memahami dan berjiwa rendah hati yang masih kurang. Selain itu, berbakti kepada orang tua juga salah satu kuncinya menurut pria penyuka goreng balado cumi-cumi ini.
Sedangkan istrinya, Rayhan memiliki prinsip bahwa ‘ setiap orang memiliki rezeki masing-masing, hanya saja mau atau tidak menjemput rezeki tersebut’ juga tidak lupa berbakti pada orang tua sembari berusaha dan berdoa pada Sang Kuasa.’ Ujar gadis yang pernah mengikuti Young Leaders for Indonesia (YLI National)ini.   
Sebagai manusia yang mempunyai daya dalam beerusaha dan berpikir, sudah tentu dengan membaca kisah mereka tidak menutup kemungkinan dapat mengikuti jejak mereka. Lag—lagi, the power of nikah mudatak ada bandingnya dari pada dunia dan seisinya. Karena menikah adalah nikmat dunia, juga sebagai ibadah. Jadi, tunggu apa lagi ? (bismillah, penulis juga akan menyusul mereka. Amin)
Semoga saya, kamu dan dia cepat menikah ya. Amin ! Sekian !

Merantaulah ! Keberanian Merantau dapat membangun Kepercayaan diri dan Kemandirian

Merantaulah ! Keberanian Merantau dapat membangun Kepercayaan diri dan Kemandirian

Pernah terpikir tidak kenapa dimana-mana di Indonesia atau di belahan dunia manapun ada etnis Tionghoa ( Baca : China). Dan dominannya mereka itu pengusaha atau pedagang. Dalam islam sering mendengar petuah islam yang menyeru umatnya untuk menuntut ilmu walaupun ke negeri china. Apa mungkin karena kita (mayoritas) tidak mau menuntut ilmu kes ana sehingga mereka (china) pula yang menuntut ilmu ke tempat kita. Dan kebanyakan mereka hidup negeri orang sukses semua, menjadi pedagang yang sukses, menguasai pasar, menjadi pengusaha yang kaya raya.
Jawabannya adalah karena mereka mau merantau dan meninggalkan kampung halamannya. Bahkan mereka mau merubah nama suku mereka. Tidak sedikit dari mereka yang rela merubah nama aslinya dengan nama yang familiar dengan daerah masing-masing yang mereka tempati. Ya walaupun mungkin nama aslinya tetap tidak dibuang tapi hanya diketahui oleh sesama teman mereka saja.
Orang Minangkabau juga salah satu daerah yang terkenal dengan penduduknya yang suka merantau. Maka tidak heran kemanapun kamu pergi pasti ada yang namanya nasi padang. Bahkan orang bule pun kadang ia lupa dengan Indonesia yang di ingatnya hanya nasi padang. #haha
Kalau di Aceh ada orang Pidie yang terkenal dengan jiwa dagangnya. Mereka juga salah satu penduduk yang mayoritasnya merantau. Dimanapun kamu pergi Indonesia ini juga tidak jarang kamu jumpai yang namanya Mie Aceh dan ketika kamu tanya dari mana asal penjual mie tersebut dominannya mereka berasal dari Aceh Pidie. Jiwa dagang mereka sangat kuat. Maka tidak heran kesuksesan sangat besar bagi mereka yang mau merantau.
Maka jelaslah sudah, bahwa merantau itu dapat menumbuhkan kepercayaan diri yang kuat dan melahirkan jiwa kemandirian. Memangnya kamu sampai kapan selalu berada dalam lingkaran keluarga? Yang setiap hari masih bergantungan sama orang tua? Minta uang, makan sudah siap saji, baju sudah dicuci.
Hello ! Apakah kehidupan seperti itu yang akan kamu jalani sepanjang hayatmu? Banyak orang bilang bahwa niikmat paling besar itu adalah ketika kita menikmati sesuatu dengan hasil jerih payah sendiri. Kita memilki apa saja yang kita inginkan dengan hasil keringat sendiri alias tidak meminta kepada orang lain ataupun orangtua.
 Lihatlah air yang mengalir. Ia akan selalu terlihat jernih dari pada air yang tergenang. Pun begitu dengan hidupmu.
Dalam islam, Imam Syafii mewasiatkan kepada umatnya untuk merantau. Untuk hijrah mencari nilai kemuliaan. Ia mengibaratkan itu semua seperti air yang mengalir yang selalu terlihat jernih dari pada air yang tergenang, yang terlihat kotor. Otak kita akan buntu dan tidak berkembang ibarat katak dalam tempurung kalau kita tidak berani untuk berhijrah. Pola pikir kita sangat tidak relevan dengan perkembangan zaman kalau kita tidak mau merantau. Orang lain sudah naik ke bulan, kita masih saja mengendarai sepeda.
Ada banyak sekali kelebihan yang di dapatkan bagi mereka yang mau merantau. Jiwa muda adalah masa yang sangat proporsional untuk mempersiapkan masa depan yang gemilang. Makanya anak muda dituntut untuk berani mengasingkan diri dari kenikmatan hasil keringat orang tuanya. Jangan jadi pemuda yang mahirnya hanya meminta-minta saja. 
Boleh di survey, berapa banyak orang yang sukses dengan yang gagal untuk orang yang serius merantau. Pastinya banyak yang sukses. Karena di perantauan jiwa mandiri kita terbentuk. Mental kita menjadi kuat. Tidak ada orang yang bisa dengan mudah untuk meminta tolong kalau tidak dengan bekerja keras. Bahkan untuk sakit pun kita harus mikir seribu kali. Kecuali sakitnya begitu parah.
Pembentukan karakter sesorang sangat cepat ketika ia mulai berani merantau. Ia akan merasakan bagaimana sebenarnya hidup itu. Ia mulai belajar bagaimana menghemat sesuatu yang ia dapatkan. Ia mulai belajar bagaimana cara menabung. Ia mulai paham bagaimana nasib orang yang kekurangan. Ia akan segera sadar bahwa mencari uang itu tidak mudah. Ia akan tahu arti sebenarnya dari kesungguhan dan bekerja keras.
Perantau rata-rata enggan berhutang budi. Justru karena ia orang baru, seorang perantau cenderung menanam jasa untuk banyak orang. Investasi soasial ini akan ada saatnya berbuah kebaikan. Siapa sangka, banyak orang yang menyukai kepribadian kita, berangsur-angsur menjadi pendukung setia langkah kita menggapai kesuksesan.
Makanya biasanya para orang tua sering berpesan kepada anaknya, baik-baiklah di kampung orang. Itu merupakan kunci utama dalam menjalani kehidupan di negeri orang. Citra baik kita juga tidak jarang membawa kita kepada kebaikan. Misalnya, masyarakat mengenal kita baik, tak disangka ada orang kampung setempat yang datang menawarkan kita sebuah pekerjaan dan dengan mudahnya mereka memberimu keprcayaan yag lebih. Karena kesuksesan seseorang juga tidak jauh dari buah silaturahmi yang baik antar sesama.
Jadi, cobalah merantau, buang sifat manjamu. Temukan jati dirimu yang tangguh, kraetif dan cerdik menangkap peluang. Karena merantau adalah ajang uji diri siapa kamu sebenarnya. Pecundang atau pejantan tangguh?
Sudah siap merantau?

Kalau Skripsimu Ingin Cepat Selesai, Stop Dulu Aktif di Media Sosial

Kalau Skripsimu Ingin Cepat Selesai, Stop Dulu Aktif di Media Sosial

Ini memang bukan sebuah teori yang mutlak untuk dipercaya dan diikuti. tapi percaya atau tidak, mahasiswa yang sedang sekarat menyelesaikan skripsinya akan terhenti karena terlalu sering aktif di media sosial.
Memang lumayan sulit, di era tsunami informasi ini memang dituntut untuk tidak “tertinggal” mengkonsumsi sejumlah informasi yang beredar, bahkan informasi hoax pun ikut termakan. Namun, kalau masalah ingin fokus nulis skripsi dan menyelesaikan kuliah sebaiknya keaktifan di media sosial sudah bisa dikurangi bahkan kalau bisa istirahat sejenak.
Fokus dulu untuk skripsimu. Berteman dulu dengan buku-buku penelitian, perpustakaan dan teman-teman jiwa pembelajar. Kalau memang terdesak untuk mencari bahan yang sulit ditemukan dalam buku, silakan buka browsermu, tapi jangan pernah coba buka akun media sosialmu. Kalau browser media sosialmu terbuka, jangan harap bahan skripsi yang kamu cari sebelumnya akan sempurna. Kamu pasti akan lalai dengan beranda facebookmu atau twitter, instagram dan lainnya.
Kamu Harus Tegas Bahwa Kamu Tidak Akan Tergoda dengan Beranda Medsosmu
Beranda media sosial memang godaan luar biasa. Ia bisa melaikan seseorang bukan menit, tapi durasinya berjam-jam. Maka jika kamu memang benar-benar tekadmu sudah bulat menyelesaikan skripsi, kamu harus tegas bahwa kamu tidak akan mengakses berbagai media sosial. Tahan dulu keinginanmu untuk membaca berita viral di media sosial.
Anggap saja untuk saat ini kamu sedang berpuasa media sosial,dan haram hukumnya membukanya. Kalau pun sulit untuk kamu lakukan, delete saja dulu aplikasinya di hpmu atau block dulu atau tutup akun sementara. Itu dilakuakn kalau memang kamu tidak sanggup menahan godaan media sosial. Tapi sebelum hal itu kamu lakukan, sebaiknya diberitahu terlebih dahulu kepada teman-teman terdekatmu bahwa kamu saat ini sedang tidak aktif di media sosial, bagi yang perlu suruh kontak langsung nomor Hpmu.
Jauhkan Diri dari Tempat-Tempat Yang Tersedia WiFinya Kalau Mau Buat Skripsi
Terkadang kita butuh tempat tertentu agar fokus untuk menghajar skripsi. Memang ada sebahagian yang mampu dan fokus disatu tempat, rumah misalnya atau kos. Tapi ada banyak mahasiswa yang membutuhkan tempat tertentu, karena ditakutkan jika ditempat seperti rumah atau kamar akan ada gangguan kecil-kecil lainnya. Contohnya, seperti di kamar, disaat kamu hilang ide atau ada kesulitan sedikit di lembaran skripsimu dan kamu berhenti sejenak, lihat kasur, bantal guling, telerlah kamu.
Nah, biasanya mahasiswa-mahasiswa yang sedang berjuang dengan skripsi cafe atau warkop menjadi tempat andalan. Tapi dengan syarat cafe atau tempat tersebut tidak ada jaringan internetnya (wifi). Loh, kenapa? Bukannya penting ada jaringan internet, jika ada bahan yang perlu langsung bisa online. Memang iya jawabannya. Tapi, ada tapinya ini loh. Tidak menjamin kamu akan lalai dengan internet meskipun yang kamu akses bukan media sosial yang seperti dijelaskan diatas. Ada banyak bacaan lainnya di internet yang bacaanya semakin lama semakin asyik untuk diikuti. tinggal lagi dech skripsimu.
Caranya bagaimana ? sebaiknya siapkan dulu bahan skripsimu sebanyak mungkin. Kemudian jangan lupa siapkan modem atau kuota internet di Hpmu. Disaat terdesak memang harus online cari bahan, buka sebentar kemudian langsung matikan. Biasanya kalau kuota pribadi yang digunakan agak sedikit irit penggunaannya dari pada wifi gratis yang disediakan di warkop tertentu.
Terlepas dari apa yang sudah dijabarkan diatas, memang ada sebahagian mahasiswa yang sanggup menyelesaikan skripsinya dan ia tetap aktif di media sosial. Tapi menurut ragam cerita mahasiswa, kebanyakan mahasiswa gagal skripsinya karena terlalu lalai dan asik dengan media sosial.
Coba aja kalau gak percaya  ! lalai atau semakin melalaikan.
Sekian. Semoga cepat siap skripsinya ya.

Senin, 06 Februari 2017

Mengakui Kesalahan itu Memang Pahit, Lebih Pahit Lagi Kalau Kamu Tidak Mau Mengakui

Mengakui Kesalahan itu Memang Pahit, Lebih Pahit Lagi Kalau Kamu Tidak Mengakui
Semua kita pasti pernah melakukan kesalahan. Manusia mana yang tak pernah melakukan kesalahan ? jawabannya pasti tidak ada.
Artinya apa?
Setiap anak Adam yang dilahirkan pasti akan, sedang, pernah melakukan kesalahan. Hanya saja, tingkatan kesalahan yang dilakukan yang berbeda.
Lantas , apakah kita tidak boleh melakukan kesalahan? Melakukan kesalahan itu bukanlah pilihan. Tidak ada manusia yang melakukan sebuah kesalahan. Hanya saja mungkin ia tidak tahu apa yang telah dikerjakannya. Kapan ia tahu, setelah ada nilainya. Pekerjaan kita akan ada hasil setelah orang melihat dan menilai.
BACA JUGA : 

Selama Pilkada, Siapakah Aswaja Sebenarnya?


Namun, memang ada kesalahan yang dilakukan karena sengaja. Untuk hal ini, tentu memilki unsur tertentu. Yang tejas tujuannya untuk merugikan orang lain. Nah, ini yang salah. Kesalahan yang diciptakan untuk mendzolimi orang atau kelompok tertentu. Na’udzubillah min Dzalik !
Mengakui Kesalahan itu Memang Pahit, Lebih Pahit Lagi Kalau Kamu Tidak Mengakui

Bagaimana cara mengakui kesalahan ?
Memang tak dapat dipungkiri. Pahit rasanya mengakui sebuah kesalahan. Keengganan kita mengaku kalau kita salah bisa jadi karena rasa gengsi atau rasa malu yang berlebihan. Apalagi, kesalahan yang direncanakan untuk melukai seseorang, dan ketahuan oleh orang yang terlukai tersebut.
Akuilah kesalahan yang telah diperbuat. Karena akan lebih pahit lagi bagi orang lain karena kamu tidak mau mengakui kesalahanmu. Ingat, hidup ini terus berputar, hari ini kamu dzolimi orang besoknya boleh jadi kamunya yang terdzolimi. Sungguh, hidup ini sangat adil.  Tidak ada kesalahan yang tak termaafkan.
BACA JUGA : 

Apa Kabar Orang-Orang Besar ?

Terkadang kita sangat sigap melakukan kesalahan untuk menjelekkan dan melukai perasaan orang lain, namun tidak siap dengan resiko yang kita terima saat kesalahan yang kita rencanakan terungkap. Termasuk kritik ataupun masukan.
Qulil Haqqa Walau Kana Murran. Kalimat ini mengajarkan kita untuk mengakui sebuah kesalahan, untuk tegas menyatakan kebenaran. Meskipun hasilnya pahit kita terima. Tapi itulah hidup. kita dituntut untuk bertanggung jawab atas kesalahan yang telah kita lakukan.
Janganlah bermain api kalau kamu takut terbakar. Hari ini kamu dengan sengaja medzolimi orang lain, dengan kekuasaan yang kamu miliki, maka kedzaliman itu akan menimpamu, cepat atau lambat.
Berani memulai. Berani menjalani. Berani mengakhiri.
Jangan biarkan kesalahan kecil yang kamu kerjakan merusak ukhuwah kita yang sudah lama terjalin hanya untuk kepentingan sesaat.
Terima kritikan orang lain, terkadang, hidayah itu kita dapatkan melalui lisan orang lain. Inilah hidup, semuanya sudah teratur, jangan coba-coba keluar dari rel, kamu pasti akan terpelanting.
Berani Berbuat, Berani bertanggungjawab !
#sekian


BACA JUGA : 

Bukan Tidak Bisa, Tapi Tidak Mau !

Selama Pilkada, Siapakah Aswaja Sebenarnya?

Selama Pilkada, Siapa Aswaja Sebenarnya?

Selama pilkada berlangsung aneka ragam “claim” sana sini bermunculan. Satu persatu memunculkan diri dengan identitas mereka masing-masing. Ada dari kalangan anak muda, komunitas, tokoh masyarakat dan tokoh agama. Kehadiran mereka tentunya membawa visi misi masing-masing dengan pandangan yang berbeda untuk menentukan sikap dalam pilkada.
Dalam konteks kekinian, “aswaja” menjadi kata primadona yang sering digunakan oleh orang-orang yang merasa kental dengan agama dan mengamalkan segala nilai-nilai yang terkandung pada manhaj ahlus sunnah waljama’ah. Tentunya,  mengatasnamakan diri dengan istilah komunitas atau kelompok tertentu menjadi hak pribadi masing-masing kelompok dengan segala keyakinan dan prinsip yang mereka pegang.
Lantas, selama pilkada berlangsung, siapakah aswaja sebenarnya?
Seperti kita ketahui, kalimat “aswaja” mulai ramai dibicarakan di Aceh setelah terjadi kisruh “ teriak-teriak” dalam Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh saat khutbah Jum’at sedang berlangsung, padahal istilah aswaja sudah lama diketahui dan diikuti manhajnya orang Aceh sejak dahulu kala. Kemudian disusul lagi dengan kejadian-kejadian yang seharusnya tidak terjadi dalam rumah Allah di  beberapa mesjid di Aceh, termasuk penutupan atau penggerebekan tempat pengajian setahun yang lalu. Bahkan tak cukup sampai disitu, upaya menamakan diri dengan “aswaja” hingga ke kampanye akbar berpusat di Makam Syiah Kuala yang membuat seluruh kader aswaja di kabupaten/kota berduyun-duyun bergerak ke Banda Aceh untuk melakukan orasi identitasnya sebagai aswaja, hingga tersematnya gelar “ Umar Bin Khattab” masa kini kepada sang Panglima, Tgk. Haji Muzakkir Manaf.
Sat itu, saya pribadi prihatin atas segala kekacauan yang terjadi, yang merongrong persatuan ummat. Sadar tidak sadar kita sedang diadu oleh lawan dengan isu agama dan keyakinan. Kepanikan dan ketidaktahuan kita terhadap ilmu seseorang, membuat kita dengan mudahnya menghukum orang dengan istilah tertentu, wahabi dan sebagainya. Memang firqoh wahabi wa ashabuhu itu ada, tapi bukan semudahnya kita menstempel orang dengan istilah tersebut sebelum kita ketahui siapa dia sebenarnya dan memiliki bukti yang valid dan konkrit. Yang saya sesali saat itu adalah mencaci, merendahkan keilmuan orang lain dan sebagainya. Sehingga media sosial saat itu dipenuhi dengan berita fitnah dan kejelekan saudara sendiri yang tanpa kita sadari musuh islam mempelajari kelemahan kita.
BACA JUGA : 

Kamu Tulis, Lama-Lama Juga Akan Selesai !

Merujuk pada makna aswaja yang sebenarnya, istilah aswaja disematkan bagi siapa saja yang mengikuti sunah Nabi SAW dan menjaga jama’ah (khilafah) kaum muslimin, bukan hanya kelompok atau mazhab tertentu. Karena aswaja bukan sebuah mazhab atau kelompok  melainkan sebuah mahhaj, jalan atau tuntunan. Singkatnya, seseorang layak disebut sebagai Aswaja manakala ia senantiasa  berjalan diatas kebenaran. Kebenaran adalah Islam dan sunnah Nabi SAW. Kebalikannya seseorang yang tidak berjalan diatas Islam, juga tidak diatas sunnah Nabi SAW maka ia bukanlah aswaja meskipun ia mengkalim dirinya seorang aswaja seribu kali. Untuk Aceh sendiri, mayoritas kita adalah Mazhab Syafi’i (untuk saat ini saya pribadi belum mengetahui apakah ada yang menggunakan mazhab lain). Apakah anda termasuk aswaja ? mengamalkan ajaran islam mengikuti sunnah rasul dan menaati segala perintah dan menjauhi larangan Allah dan rasulmu ? tentu yang menjawab ini semua diri kita sendiri, sejauh mana kita menjalani dan menaati segala bentuk perintah dan larangan agama yang kita yakini.
Selama Pilkada, Siapa Aswaja Sebenarnya?
Kebersamaan Aswaja Aceh dalam Memerangi Wahabi | Photo : Serambi Indonesia

Tapi, Alhamdulillah, sejak kasus Ahok menista agama bergulir, ummat islam kembali bersatu, seakan hilang akan perbedaan yang terjadi selama ini, yang sempat membuat kita terkotak-kotak, saling mencaci sesama muslim, saling menghina, membuka aib sesama saudara kita seiman, yang pada hakikatnya perangai tersebut jauh dari ajaran islam.
Kini, kalimat aswaja itu terdengung kembali dari sudut-sudut daerah untuk mendukung pasangan calon masing-masing. Ramai-ramai mengklaim diri mereka masing-masing mendukung pasangan calon tertentu. Sudah pasti, membawa nama aswaja memiliki tujuan yang pasti,  untuk mempengaruhi masyarakat agar memilih pasangan calon yang didukungnya, menghipnotis masyarakat dengan aroma keaswajaannya untuk memenangkan pasangan calon yang dijagokannya.
BACA JUGA : 

Bukan Bisnis Baru, [MMM] Manusia Membantu Manusia

Maklum, perbedaan pendapat dalam bingkai politiklah yang membuat kader aswaja terpecah. Dan hal tersebut sangat wajar terjadi pada setiap individu atau kelompok sebagai makhluk hidup. Tentu kita punya selera yang berbeda bukan? Yang jelas aswaja tetap aswaja, di politik boleh berbeda, yang penting akidah dan keyakinan tetap sama.
Jadi, tidak ada kelompok aswaja yang wajib kita ikuti dalam pentas politik. Karena mereka, kita punya pilihan masing-masing. Siapa saja bisa menamakan diri aswaja, selama ia mengikuti manhaj ahlu sunnah wal jama’ah. Maka masyarakat tidak perlu bingung menentukan pilihannya, jika ada kelompok tertentu, baik itu aswaja atau lainnya menentukan sikap politiknya, pilih saja sesuai pilihan hati masing-masing yang menurut kita layak menjadi memimpin, dan memiliki sifat shiddiq, amanah, tabligh, fathanah.
Pun, begitu dengan muncul kelompok-kelompok tertentu menamakan aswaja ini itu saat pilkada, jangan mencaci atau menghujat mereka, menjelekkan, merendahkan dan sebagainya. Politik mendidik kita agar semakin dewasa memandang sebuah perbedaan. Jadikan perbedaan itu sebuah keindahan dalam berpikir. Karena Aswaja adalah KITA.
Sekian.

_______________________________
Tulisan ini merupakan pendapat pribadi. jika ada yang berminat membaca tulisan ini , dan menemukan kesalahan silakan di komentari dibawahnya, tak perlu menghujat. kata-kata dibalas dengan kata-kata. Karena Kebenaran akan kita ketahui setelah melakukan kesalahan. Salam Blogging #
BACA JUGA : 

Ke Kampus Apa Yang Kamu Cari?